Skip to main content

Posts

" Saya kagum filosofi 'menyerang' sepak bola Brasil. Makanya sekarang saatnya menyerang untuk perbaikan sepak bola Indonesia. Mereka cuma bisa bertahan ," kicau Arya Abhiseka, pada 31 Desember 2010. ibaratnya pemain bola itu kita dan bolanya mereka. kita bakal terus mengejar bola yg ngga pasti arahnya kemana. yang belom tentu kalau kita udah berusaha, kita bakal menang . berarti pemain harus muter otak biar bolanya masuk gawang. mungkin saya bakal terus usaha sampai menang. seenggaknya saya udah usaha sampai maksimal. tapi gimana kalo disaat kita harus menyerang, yang kita lakukan hanya bertahan? mungkin, pemain bola itu bernasib sama kayak saya. yang saya kejar itu ga pasti. terus-menerus mengejar, tapi ga muter otak biar permainannya berhenti. tapi saat tujuan itu hilang, saya cuma bisa bertahan. kamu itu ga pernah puas, maunya digiring sama yang searah. belok dikit, langsung cari yang lain. saya lelah kejar-kejaran. memang kelihatan saya ini bodoh. saya ga cerdi...

elf

You think I wanted to turn out this way? You think I don't see my own flaws, my own mistakes? I do, okay? Get that. I do. More than anything I contemplate about all the things I could've done better or shouldn't have done at all. But then I thought, why bother? Sooner or later we all have to let it go. No more hate, not more anger, no more regrets.
"bagaimana caraku menerima fakta bahwa ia miliknya sementara ia baru saja milikku? tidak akan pernah berhasil. " aku menunggu. masih kurang? baik, aku sayang kamu.
memangnya kelihatannya aku ini siapa? Wizard of Oz? kamu butuh otak? kamu butuh hati? silahkan saja. ambil hatiku. ambil segalanya yang kupunya. sakitnya sudah tidak bisa dilukiskan kata-kata.
jika terus seperti ini, saya lelah. berusaha mencapai suatu keadaan seperti dulu;ketergantungan memori. kamu akan terus berpegang pada janji tidak akan menghilang dan faktanya saya menunggu disini dan kamu pergi. semuanya omong kosong kalau yg kamu rasakan tidak ada perilakunya. tidak ada perbandingannya. dan terkadang, saya capek harus berargumen dengan masalah yg selalu diperpanjang. hanya pengertian. bagaimana caranya mengerti jika hal-hal yg seharusnya dimengerti, tapi tidak berusaha dipahami? lagi, saya cukup bodoh untuk percaya, tetapi kenapa saya terus berharap?
Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana semua inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh. Kalau punya masalah, tidak berarti harus cari pacar baru, kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbaharui. Cinta bisa tumbuh sendiri, tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi kalau tidak dipelihara. Dan kembali saya merenung: bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.